teusworld.com
Brussels, 23 Juli 2025 | Port Security – TEUSWORLD.COM
NATO melalui Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence (CCDCOE) mengeluarkan kebijakan terbaru yang menyoroti peningkatan ancaman siber terhadap infrastruktur pelabuhan vital. Dalam policy brief berjudul “Addressing State‑Linked Cyber Threats to Critical Maritime Port Infrastructure”, diungkap bahwa hampir semua negara anggota melaporkan telah mengalami insiden siber dalam lima tahun terakhir.
Ancaman ini tidak hanya berasal dari kelompok kriminal dan hacktivis, tapi juga diduga melibatkan aktor negara-negara seperti Rusia, Iran, dan China, yang menarget sistem kritis port, termasuk kontrol akses serta sistem manajemen lalu lintas kapal. Sebagian besar serangan bertujuan mengganggu kontinuitas operasi, bahkan mengganggu mobilisasi militer saat krisis.
NATO menegaskan bahwa pelabuhan tidak bisa dilindungi secara terpisah dari jaringan infrastruktur pendukungnya seperti energi dan komunikasi. Sejumlah titik lemah telah diidentifikasi: sistem manajemen operasional hingga kabel bawah laut. Untuk itu, aliansi menekankan pentingnya ketahanan siber (cyber resilience) seluruh ekosistem pelabuhan .
Rekomendasi kunci dari brief tersebut mencakup: pembaruan strategi maritim NATO untuk mencakup ancaman siber, pembentukan jaringan intelijen siber antar negara dan operator swasta, hingga peran penghubung sipil-militer di pelabuhan untuk respons cepat saat terjadi serangan.
Juru bicara NATO menyatakan bahwa “pelabuhan kini menjadi domain konflik digital” karena mengelola sekitar 80% perdagangan global. Tanpa penanganan tepat, gangguan siber dapat berkonsekuensi serius—mulai dari kebocoran data hingga hambatan logistik dan mobilitas militer.
Disusun oleh Redaksi TEUSWORLD.COM