NYK
Kopenhagen, 17 Juli 2025 – Shipping & Logistics | TEUSWORLD.COM
Raksasa pelayaran global A.P. Moller – Maersk kembali mencatat tonggak inovasi dengan menggandeng Starlink, jaringan internet satelit milik SpaceX, untuk menghadirkan konektivitas real-time di atas laut. Program uji coba ini menjadi bagian dari strategi Maersk untuk mendigitalisasi seluruh rantai pasok laut mereka, sekaligus meningkatkan kenyamanan awak dan efisiensi operasional di tengah tantangan logistik global.
Dalam keterangan resmi yang dikutip dari Maersk, layanan Starlink telah diaktifkan di ratusan kapal berbendera Maersk sejak pertengahan 2024, dengan target 330 kapal tuntas dipasangi hingga akhir 2025. Teknologi orbit rendah Starlink menawarkan kecepatan tinggi dan latensi rendah, bahkan saat kapal berada di tengah Samudera Hindia atau Pasifik Selatan.
Pihak Maersk menjelaskan bahwa kehadiran konektivitas ini bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga membuka jalan bagi pemantauan kondisi mesin secara real-time, pelaporan navigasi langsung ke pusat kendali, dan integrasi sistem manajemen armada berbasis cloud.
Langkah Maersk ini dinilai sebagai salah satu pendorong utama transformasi digital sektor pelayaran global. Dalam laporan industri yang dikutip dari Splash247, penggunaan internet satelit di kapal telah terbukti meningkatkan efisiensi komunikasi, mempercepat pengambilan keputusan operasional, serta mengurangi kesalahan karena keterlambatan informasi.
Salah satu kapten kapal Maersk yang ikut dalam program uji coba menyatakan bahwa awak kapal kini dapat berkomunikasi dengan keluarga tanpa hambatan, mengakses pelatihan daring, hingga mengikuti kabar dunia secara langsung — sesuatu yang sebelumnya nyaris mustahil selama perjalanan lintas benua.
Menurut laporan dari Lloyd’s List, pelayaran global yang mengadopsi konektivitas satelit akan mengalami lonjakan produktivitas signifikan, sekaligus menurunkan biaya operasional jangka panjang. Selain itu, sistem seperti Starlink juga memungkinkan kontrol emisi berbasis data, pelacakan rute yang lebih presisi, serta deteksi dini terhadap potensi kerusakan teknis kapal.
Analis memperkirakan, integrasi internet satelit akan menjadi fitur standar di sektor pelayaran dalam lima tahun ke depan, sama seperti AIS (Automatic Identification System) atau ECDIS (Electronic Chart Display and Information System).
Jika adopsi ini meluas, pelabuhan Indonesia dan otoritas maritim lokal perlu mempersiapkan sistem pelaporan yang kompatibel dengan data real-time kapal asing yang sandar. Ini juga membuka peluang besar bagi pelayaran domestik untuk mengadopsi teknologi serupa, terutama kapal-kapal feeder dan logistik perintis yang kerap mengalami blackout komunikasi di perairan terpencil.
Disusun oleh Redaksi TEUSWORLD.COM