The Guardian
Global, 12 Juli 2025 – Shipping & Logistics | Teusworld.com
Ketegangan yang terus berlanjut di kawasan Laut Merah memicu gangguan besar pada rute pelayaran global, khususnya lintasan Asia–Eropa. Banyak operator kapal peti kemas utama terpaksa mengalihkan rute mereka menjauh dari Terusan Suez, melewati Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung selatan Afrika.
Dampaknya? Tarif freight melonjak tajam hingga 300%, waktu pengiriman menjadi lebih lama, dan tekanan logistik meningkat di pelabuhan-pelabuhan penghubung global.
Pelayaran Dialihkan, Rute Membengkak
Operator seperti Maersk, MSC, dan Hapag-Lloyd telah menonaktifkan sementara jalur Laut Merah karena meningkatnya risiko keamanan akibat serangan drone dan ketegangan geopolitik. Akibat pengalihan rute ke selatan Afrika: Waktu tempuh Asia–Eropa naik 10–14 hari, biaya bahan bakar meningkat drastis dan jadwal kapal jadi tak menentu (schedule reliability drop).
Tarif Meroket: Dari $1.500 ke $6.000 per TEU
Tarif spot untuk pengiriman kontainer dari Shanghai ke Rotterdam dilaporkan naik dari sekitar $1.500/TEU ke $6.000/TEU dalam waktu kurang dari dua bulan.
Menurut Freightos, lonjakan ini bahkan lebih tajam dibandingkan saat pandemi 2021, karena kombinasi dari: Keterlambatan rotasi kapal, rute panjang dan keterbatasan kontainer.
Dampak di Hulu & Hilir Rantai Pasok
Lonjakan tarif dan waktu pengiriman ini berdampak ke berbagai sektor:
- Manufaktur Eropa kekurangan pasokan tepat waktu
- Retail dan e-commerce menghadapi keterlambatan stok
- Pelabuhan transit seperti Jebel Ali & Tanger Med mengalami tekanan tambahan.
Respon Industri: Koordinasi & Fleksibilitas
Beberapa solusi yang sedang diuji:
- Transshipment di pelabuhan netral
- Penyesuaian jadwal rotasi kapal
- Peningkatan penggunaan layanan rel & udara untuk barang urgent.
Selain itu, para eksportir dan importir kini didorong untuk:
- Meningkatkan transparansi pelacakan pengiriman
- Diversifikasi mode transportasi
- Menyusun ulang kontrak freight tahunan.
Apa Arti Ini Bagi Asia Tenggara & Indonesia?
Sebagai bagian dari jalur pelayaran Asia–Eropa, pelabuhan Indonesia seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Belawan harus:
- Bersiap dengan potensi limpahan kapal reroute
- Menyiapkan kapasitas kontainer ekstra
- Meningkatkan efisiensi bongkar-muat untuk menghindari backlog
Disusun oleh Redaksi TEUSWORLD.COM